sepatu-bootss

Awal Perkembangan Sepatu Boots Kulit

Meskipun sudah ada sejak 1000 SM, sepatu boots baru mulai dikenal publik di tahun 60-an dan terus berkembang hingga 90-an. Memasuki abad ke 20, sepatu boots sudah menjadi sepatu yang lumrah dipakai kalangan wanita. Apalagi sejak Denise Poiret seorang istri coutrier Prancis, Paul Poiret, yang sangat terkenal saat itu mengenakan sepatu boots setinggi lutut hingga menimbulkan beragam reaksi dari publik di Paris dan New York pada tahun 1915. Pada saat itu, sepatu boots sudah memiliki beragam warna seperti putih, merah, hijau, dan kuning.

Tahun 1920-an, sepatu boots berhak tinggi mulai banyak dipasarkan di Rusia. Namun perkembangan sepatu boots di Rusia tidak berkembang pesat karena hingga di 1930-an, sepatu boots sudah dianggap sebagai sepatu dengan kualitas yang buruk dan tidak nyaman dipakai untuk wanita ramping dan sederhana. Wanita Rusia pada saat itu lebih menyukai gaya sepatu modis yang lebih mendukung penampilan mereka.

Amerika Serikat Dianggap Sebagai Negara Kelahiran Sepatu Boots Berbeda dengan Rusia, sepatu boots di Amerika lebih diterima secara luas oleh publik. Apalagi, seorang perancang sepatu di AS bernama Beth Levine dinobatkan sebagai orang pertama yang membawa budaya sepatu boots ke Haute Couture. Beth Levine mengenalkan sebuah desain sepatu boots dengan panjang sebetis di tahun 1953 yang dibuat khusus untuk anak-anak berkulit putih.

Di periode awal kemunculan, sepatu boots memang didedikasikan untuk para anak perempuan di Amerika yang dibuat dari bulu domba. Meskipun pada mulanya sepatu boots dikenalkan oleh perantau dari Indian, namun sepatu boots lebih dianggap lahir di negara Amerika Serikat.

Sayangnya, popularitas Beth Levine dikalahkan oleh kehadiran Balenciaga, sebuah rumah mode mewah asal Spanyol oleh Cristobel Balenciaga yang merancang sepatu boots setinggi di atas lutut pada tahun 1962. Hadirnya sepatu boots berkulit buaya juga turut meramaikan pasar sepatu boots di Amerika.

Wanita-wanita di Amerika memang sudah terbiasa menggunakan sepatu boots sehari-hari mulai dari zaman suku Indian atau bisa jadi lebih lama dari itu. Berbeda dengan sepatu boots di zaman milenial saat ini, dulu, hampir semua sepatu boots dibuat dari kulit binatang. Para pekerja pria memburu binatang untuk diambil dagingnya, sedangkan kulitnya dimanfaatkan untuk membuat sepatu wanita.

Sepatu Boots Sempat Dilarang Digunakan Para Pekerja Amerika Sebenarnya, kehadiran sepatu boots pernah mengalami kontroversi sosial. Orang dewasa yang menggunakan sepatu boots dianggap ‘konyol’ dan sangat tidak pantas.

Sepatu ini lebih cocok untuk anak-anak hingga remaja perguruan tinggi. Kontroversi tersebut juga merambah di lingkungan para pekerja kantor. Bahkan, perusahaan mengeluarkan peraturan yang melarang karyawannya untuk menggunakan sepatu boots.

Hampir 75% manajer kantor seperti yang disurvei The New York Times menyatakan tidak setuju dengan hadirnya sepatu ini di lingkungan kantor. Sehingga, pada periode 1960 hingga 1968 sepatu boots mengalami penjualan yang buruk akibat adanya kontroversi tersebut. Namun menginjak periode tahun 1977-an, penjualan sepatu boots di AS mulai naik hingga 20% dari total penjualan sepatu wanita. Di tahun 70-an, omset yang diterima pabrik sepatu boots melonjak tinggi dengan hadirnya desain baru sepatu boots yang lebih tinggi dari lutut dengan hak berukuran mencapai 10 cm.

Pasang Surut Pasar Sepatu Boots Tiba di tahun 80-an, masa keemasan sepatu boots di tahun 70-an ternyata tidak berlangsung lama. Karena di periode tahun 1980, penjualan sepatu boots mengalami penurunan yang sangat tajam untuk kategori popularitas sepatu berkaki tinggi. Sepatu boots dikalahkan dengan hadirnya sepatu pergelangan kaki yang dianggap lebih bergaya untuk pengguna yang memiliki betis rendah.

Pasar sepatu boots memang mengalami pasang surut yang sangat signifikan. Beberapa kali jenis sepatu ini terpaksa harus gulung tikar. Namun adanya ledakan budaya klub dansa di tahun 90-an menyelamatkan pabrik sepatu boots dari kebangkrutan. Gianni Versace yang ikut merancang desain baru dari sepatu boots turut mengharumkan
popularitas boots di Vogue (majalan fashion dan lifestyle dari Amerika Serikat) yang menyatakan “The Year of The Boot”. Sepatu boots tidak lagi dirancang setinggi lutut saja, namun sudah mulai di desain setinggi pergelangan kaki untuk memenuhi permintaan pasar.

Kebangkitan budaya fashion yang lebih feminim dan ringan membuat para perancang sepatu boots mulai memperhatikan desain boots dengan merilis koleksi dari Versace yang menampilkan sepatu boots hak tinggi dan ramping. Hingga sekarang, rancangan tersebut masih cukup populer di kalangan para pecinta sepatu boots, terutama untuk kategori wanita dengan kaki panjang dan tubuh yang tinggi.

Dari sinilah sepatu boots mulai dilirik dunia sebagai salah satu mode fashion yang patut untuk dibeli. Perkembangan Sepatu Boots Mulai Tahun 2000 Hingga Sekarang Jika dilihat-lihat, sepatu boots saat ini sudah mengalami banyak perubahan desain dari segi bentuk hingga bahan yang digunakan.

Jika dulu sepatu boots masih dibuat dengan kulit asli binatang, saat ini sebagian besar sepatu boots dibuat dari karet dan kanvas. Untuk sepasang sepatu boots setinggi lutut biasanya ditambahkan aksen logam untuk membuat sepatu lebih kuat. Jika dulunya sepatu boots banyak yang desain bawahnya terpisah dari atasnya, sekarang sepatu boots sudah menyatu antara atas dan bawah layaknya sepatu pada umumnya.

Source: Berbagai Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *